BANDUNG, KOMPAS.com – Perusahaan Umum (Perum) Bulog memastikan ketahanan stok pangan nasional maupun daerah dalam kondisi aman di tengah ancaman dampak ekonomi global dan isu pemanasan global. Saat ini, stok cadangan pangan Bulog di Tanah Air mencapai 5,38 juta ton. Dari jumlah tersebut, wilayah Jawa Barat menyumbang stok sebesar 845.000 ton dan menempatkannya sebagai lumbung pangan terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Timur. Baca juga: Bulog Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan Petani Langkat Direktur Utama Perum Bulog, Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani meminta masyarakat untuk tidak panik dan khawatir mengenai ketersediaan pangan hingga awal tahun depan.
“Jadi masyarakat tidak perlu bimbang, tidak perlu ragu, stok kita banyak. Ini bisa bertahan sampai nanti tahun depan. Awal tahun depan diperkirakan sampai bulan Maret-April masih bisa untuk bertahan,” ujar Rizal saat meninjau penyaluran bantuan pangan di Desa Arjasari, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/5/2026).
Rizal mengatakan, ketahanan stok ini juga diperkuat oleh program pompanisasi dari Kementerian Pertanian yang menjaga produktivitas lahan di tengah isu pemanasan global. Melalui program ini, para petani diharapkan tetap bisa bercocok tanam dan memanen padi minimal satu hingga dua periode lagi, tergantung kondisi irigasi setempat.
Ketangguhan stok pangan di Jawa Barat bahkan membuat provinsi ini mampu menyuplai kebutuhan komoditas beras ke wilayah lain di luar Pulau Jawa. “Jawa Barat ini juga sebagai produsen beras yang kita kirim ke wilayah Riau, kemudian kita kirim ke Natuna, dan lain sebagainya. Sehingga saling mengisi, saling membantu, produk-produk dari Jawa Barat ini juga dimanfaatkan oleh saudara-saudara kita yang ada di pulau-pulau lain,” ucap dia. Penyaluran Stimulus Ekonomi Di lokasi yang sama, Bulog tengah merampungkan penyaluran bantuan pangan gelombang kedua yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto. Secara nasional, bantuan pangan ini menyasar 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Sementara itu, untuk wilayah Desa Arjasari, tercatat ada 1.442 KK yang menerima manfaat tersebut.
Setiap keluarga menerima stimulus berupa 20 kilogram beras dan 4 kilogram Minyakita yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan selama dua bulan. Bantuan diprioritaskan bagi warga yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) pada kategori desil 1 sampai 3. “Nah ini bantuan ini harapannya memberikan stimulus kepada saudara-saudara kita, Bapak-bapak ataupun Ibu-ibu yang masuk dalam DTKS desil 1 sampai 3 dan mudah-mudahan ini meringankan dengan dampak ekonomi global yang sedang terjadi saat ini,” ujar Rizal. Mengenai keberlanjutan program ini ke depan, Rizal mengungkapkan bahwa Perum Bulog telah berkoordinasi dengan legislatif untuk menambah masa penyaluran bantuan pangan pada bulan-bulan berikutnya.


