Bulog Rejang Lebong Genjot Penyerapan Jagung Petani Hingga 39,45 Ton untuk Ketahanan Pangan

Perum Bulog Cabang Rejang Lebong berhasil melakukan penyerapan jagung petani sebanyak 39,45 ton dari tiga kabupaten, mendukung program ketahanan pangan dan stabilitasi harga. (©AntaraNews)

Perum Bulog Cabang Rejang Lebong telah menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan lokal dengan menyerap jagung pipilan dari petani. Hingga saat ini, total 39,45 ton jagung berhasil ditampung dari wilayah Rejang Lebong, Kepahiang, dan Lebong di Provinsi Bengkulu. Penyerapan ini merupakan bagian dari upaya Bulog untuk menstabilkan pasokan dan harga pangan, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak di daerah tersebut.

Inisiatif ini tidak lepas dari kerja sama strategis antara Bulog Cabang Rejang Lebong dengan pihak kepolisian setempat. Program “satu desa/kelurahan satu hektare kebun jagung” yang diusung kepolisian menjadi salah satu pendorong utama peningkatan produksi jagung di kalangan petani. Kerjasama ini memastikan hasil panen petani dapat terserap dengan baik oleh Bulog.

A Musalim Yudha, Pimpinan Cabang Perum Bulog Rejang Lebong, menjelaskan bahwa jagung yang diserap ini akan disalurkan sebagai jagung pakan. Penjualan dilakukan melalui program Stabilitasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga subsidi, bertujuan meringankan beban peternak di tengah fluktuasi harga pasar.

Detail Penyerapan dan Mekanisme Pembelian Jagung

Total penyerapan jagung pipilan oleh Bulog Cabang Rejang Lebong mencapai 39.450 kilogram atau setara 39,45 ton. Rincian penyerapan ini meliputi 14.250 kg dari Polres Rejang Lebong, 14.400 kg dari Polres Kepahiang, dan 10.800 kg dari Polres Lebong. Angka ini menunjukkan distribusi penyerapan yang merata di tiga kabupaten tersebut, memperkuat peran Bulog dalam mendukung petani jagung.

Jagung yang dibeli oleh Bulog ini adalah jagung khusus untuk pakan ternak, yang nantinya akan dijual kepada masyarakat luas. Harga jual yang ditetapkan dalam program SPHP jagung pakan adalah Rp5.500 per kg, sebuah harga subsidi yang sangat diminati oleh para peternak. Mekanisme pembelian jagung dari petani oleh Bulog dilakukan dengan harga Rp6.400 per kilogram setelah jagung tiba di gudang.

Untuk mendapatkan SPHP jagung pakan ini, peternak harus mengajukan usulan melalui dinas pertanian masing-masing daerah, yang kemudian akan disampaikan ke Bulog. Skema ini tidak memungkinkan pembelian secara perorangan, melainkan harus melalui kelompok peternak. Hal ini bertujuan untuk memastikan distribusi yang tepat sasaran dan efisien kepada kelompok yang membutuhkan.

Standar kualitas jagung yang diserap Bulog juga sangat diperhatikan. Jagung harus memiliki kadar air maksimal 14 persen dan kandungan alfatoksin atau racun dari jamur maksimal 50 pbb. Standar ini penting untuk menjaga kualitas pakan ternak dan kesehatan hewan, sehingga produk yang dihasilkan aman dan berkualitas.

Tantangan Pengeringan dan Upaya Mitigasi Bulog

Proses penyerapan jagung ini melibatkan pengawalan ketat dari Bulog kepada kelompok tani di setiap kabupaten. Pengawalan dimulai dari tahap pemanenan, penjemuran, hingga jagung masuk ke gudang penyimpanan. Hal ini memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar dan kualitas jagung tetap terjaga hingga sampai di tangan Bulog.

Jagung yang diserap berasal dari petani binaan pihak kepolisian yang menjalankan program ketahanan pangan “satu desa/kelurahan satu hektare jagung”. Program ini tidak hanya meningkatkan produksi jagung, tetapi juga memberdayakan petani lokal. Hasil panen jagung ini kemudian disimpan di gudang Bulog Cabang Rejang Lebong yang berlokasi di Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang, dengan kapasitas penyimpanan mencapai 150 ton.

Meskipun demikian, Bulog menghadapi tantangan signifikan terkait pengeringan jagung, terutama pada bulan November dan Desember yang seringkali memiliki curah hujan tinggi. Curah hujan yang intens menyulitkan proses penjemuran alami yang sangat vital untuk mengurangi kadar air jagung. Kondisi cuaca ini memerlukan solusi inovatif agar kualitas jagung tetap terjaga.

Untuk mengatasi kendala ini, Bulog bekerja sama dengan KUD Talang Benih untuk memanfaatkan fasilitas rumah jemur yang mereka miliki. Meskipun kapasitas rumah jemur tersebut terbatas, maksimal 5 ton, ini menjadi solusi sementara. Selain itu, Bulog juga berupaya melakukan pengeringan manual dengan menjemur jagung di lantai semen atau menggunakan terpal saat cuaca memungkinkan, memastikan jagung tetap kering dan memenuhi standar kualitas.

Bagikan

Leave a Reply