TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta berkolaborasi dengan Perum BULOG Kantor Wilayah Yogyakarta menggelar Operasi Pasar Stabilisasi Harga Pangan atau Pasar Murah.
Kegiatan ini menyasar 14 kemantren di seluruh wilayah Kota Yogyakarta, berlangsung mulai 17 November hingga 5 Desember 2025 mendatang.
Langkah strategis diambil sebagai upaya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas harga serta ketersediaan bahan pokok menjelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Pemimpin Wilayah Perum BULOG Kanwil Yogyakarta, Dedi Aprilyadi, menyampaikan, Operasi Pasar menjadi salah satu instrumen pengendalian inflasi yang terus diperkuat pemerintah daerah bersama BULOG.
“Kegiatan ini adalah upaya Pemerintah dalam rangka pengendalian inflasi daerah, serta meningkatkan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok menjelang Nataru,” ujarnya, Selasa (18/11/2025).
Hal senada disampaikan Ketua Tim Kerja Ketersediaan dan Pengendalian Harga pada Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Evi Wahyuni.
Menurutnya, pasar murah menjadi agenda rutin Pemkot untuk mengantisipasi lonjakan harga pada momen-momen besar seperti Ramadan, Idulfitri, maupun Nataru.
Setiap kemantren mendapat kuota 4 ton bahan pokok, terkecuali Umbulharjo, Gondokusuman, dan Mergangsan yang memperoleh kuota 6 ton, karena cakupan wilayahnya lebih luas.
“Mekanisme pembelian dibatasi bagi warga yang berdomisili di kemantren penyelenggara. Setiap kemantren menyediakan kupon, dan warga menunjukkan KTP saat berbelanja,” ungkapnya.
“Pembelian juga diimbau sewajarnya, sesuai kebutuhan rumah tangga. Kalau beli 4 atau 5 masih wajar, tapi kalau beli gula satu karung jelas tidak boleh,” imbuh Evi.
Ia menyatakan, tujuan utama pelaksanaan pasar murah adalah menjaga inflasi daerah dengan menekan lonjakan permintaan di pasar rakyat, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dengan harga terjangkau.
“Dengan masyarakat bisa mendapatkan kebutuhannya di sini, mereka tidak akan berbondong-bondong ke pasar sehingga permintaan tetap terkendali,” katanya.
Selain pasar murah yang berkeliling di 14 kemantren, Pemkot Yogyakarta juga mengoperasikan kios Sogoro Amarto di empat pasar sebagai instrumen pantauan harga dan ketersediaan komoditas.
“Kalau kios Segoro Amarto sepi justru kami senang, berarti harga dan stok di pasar aman. Kalau sampai ramai dan antre, itu baru kami harus bergerak cepat,” pungkasnya. (aka)


