Perum Bulog Natuna berkolaborasi dengan Koperasi Desa Merah Putih untuk menjaga stabilitas harga beras di perbatasan. Simak strategi mereka!
Perum Bulog Cabang Natuna telah mengambil langkah strategis yang signifikan untuk menjaga stabilitas harga beras di wilayah perbatasan Indonesia. Kolaborasi penting ini melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes MP) sebagai mitra resmi dalam upaya distribusi pangan.
Inisiatif vital ini secara khusus dilaksanakan di Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, sebuah daerah yang memiliki posisi geografis strategis sebagai wilayah perbatasan. Tujuannya sangat jelas, yaitu untuk memastikan ketersediaan pasokan beras yang cukup dan keterjangkauan harga bagi seluruh masyarakat setempat.
Melalui penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bulog berupaya keras menekan fluktuasi harga yang mungkin terjadi. Program ini menjadi instrumen kunci dalam upaya menjaga ketahanan pangan nasional, khususnya di daerah-daerah terpencil yang rentan.
Strategi Kolaborasi Bulog dan Koperasi Desa
Pemimpin Perum Bulog Cabang Natuna, Delly Bayu Putra, menjelaskan secara rinci bahwa kerja sama ini merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi nasional menjaga harga beras. Hingga saat ini, sudah ada empat Kopdes MP yang secara resmi menjadi mitra Bulog di Natuna. Koperasi-koperasi tersebut meliputi Kopdes MP Batubi Jaya, Air Lengit, Sepempang, dan Batu Hitam, yang tersebar di berbagai lokasi.
Koperasi-koperasi ini memegang peran yang sangat vital dalam mendistribusikan beras SPHP berkualitas kepada masyarakat luas. Beras SPHP sendiri dikenal sebagai jenis beras kualitas medium yang telah ditetapkan standarnya. Produk ini dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang terjangkau, yakni Rp65.500 per kemasan lima kilogram, memastikan aksesibilitas bagi konsumen.
Penyaluran melalui Kopdes MP juga menjadi bagian integral dari upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan beras. Ini adalah langkah proaktif untuk memastikan pasokan pangan yang memadai di tingkat masyarakat. Kemitraan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjamin ketahanan pangan di wilayah perbatasan.
Keberadaan koperasi desa sebagai mitra distribusi sangat krusial, terutama di daerah perbatasan yang seringkali menghadapi tantangan logistik. Melalui Kopdes MP, akses masyarakat terhadap beras berkualitas dengan harga stabil dapat lebih terjamin. Ini juga memberdayakan ekonomi lokal di tingkat desa.
Perluasan Jaringan Distribusi Beras SPHP
Delly Bayu Putra menambahkan bahwa pelaksanaan program SPHP untuk tahun 2025 akan mengacu pada Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nomor 224 Tahun 2025. Regulasi baru ini secara spesifik bertujuan untuk memperluas jangkauan dan efektivitas distribusi beras SPHP.
Perluasan jalur distribusi ini mencakup berbagai mitra strategis yang telah teruji. Selain koperasi desa, Bulog juga menjalin kerja sama erat dengan pemerintah daerah dan gerai-gerai BUMN. Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog, serta kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM), juga turut dimanfaatkan secara optimal.
“Untuk di Natuna, penyaluran beras SPHP dilakukan melalui GPM, RPK, pasar rakyat, dan Kopdes Merah Putih,” ujar Delly. Pernyataan ini secara jelas menegaskan beragamnya kanal penyaluran yang digunakan di wilayah Natuna. Hal ini bertujuan untuk mencapai cakupan distribusi yang maksimal.
Hingga Oktober 2025, Bulog Natuna telah berhasil menyalurkan total 422 ton beras SPHP kepada masyarakat. Penyaluran masif ini dilakukan melalui berbagai jalur distribusi yang telah disebutkan sebelumnya, menunjukkan efektivitas program. “Total mitra aktif Bulog di Natuna kini mencapai 65 unit,” kata Delly Bayu Putra, menekankan betapa pentingnya peran mereka dalam menjaga stabilitas harga beras di perbatasan. Kemitraan yang luas ini menjadi tulang punggung keberhasilan program.


