Bulog Bangun 13 Gudang Kedelai

SIDOARJO- Perum Bulog mulai merealisasikan pembangunan infrastruktur pascapanen berupa 3 unit gudang kedelai dengan total investasi Rp 18 miliar di Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng). Infrastruktur itu merupakan bagian dari 13 unit gudang kedelai yang hendak dibangun Bulog dengan memanfaatkan dana dari Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 2 triliun.
Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan, Bulog berencana membangun 13 unit gudang kedelai yang dananya bersumber dari PNM dan 3 unit di antaranya mulai direalisasikan dengan dilakukannya pemancangan tiang pertama (groundbreaking) pada Rabu (8/11). Dari 3 unit gudang tersebut, satu di antaranya di Sidoarjo, Jawa Timur, dan dua lainnya di Banyumas, Jawa Tengah.
“Secara simultan, kita sedang memulai pembangunan 3 unit gudang kedelai dari 13 unit yang kita rencanakan,” katanya di sela proses groundbreaking pembangunan gudang kedelai di Komplek Pergudangan Banjar Kemantren Subdivre Surabaya Utara Perum Bulog Divre Jatim, Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (8/11).
Setiap unit gudang kedelai itu berkapasitas 3.500 ton dan menelan investasi Rp 6 miliar per unit, itu hanya untuk bangunan. Pembangunan gudang di Sidoarjo itu memiliki lebar 30 meter, panjang 54 meter, dan tinggi 7 meter, ditargetkan selesai dan dapat dioperasikan dalam lima bulan mendatang. “Gudang ini sudah siap dioperasikan pada 2018 dan bisa menyimpan kedelai hingga enam bulan. Kedelai yang dihasilkan petani di Jatim seperti dari Probolinggo bisa ditampung di sini,” imbuhnya.
Wahyu menyatakan, pembangunan 3 unit gudang kedelai lainnya di lahan milik Bulog akan segera menyusul di Bandar Lampung, Subang, dan Cianjur. Selanjutnya, secara bertahap gudang lainnya akan terus diupayakan pembangunannya begitu sudah melewati proses pembebasan lahan. Hal itu mengingat untuk mendapatkan lahan di luar lahan milik Bulog untuk kebutuhan gudang kedelai dengan hamparan cukup luas tidak mudah. “Tapi kita akan upayakan untuk mendapatkan lahan itu sehingga 13 gudang kedelai yang sudah kita rencanakan segera terwujud,” ujarnya.
Dia menjelaskan, pembangunan gudang kedelai tersebut dilakukan Perum Bulog guna menciptakan efisiensi dalam proses tata niaga kedelai. Karena itu, gudang dibangun di dekat sentra produksi kedelai. “Harapannya, dengan adanya gudang kedelai maka stabilisasi stok dan harga kedelai ke depan akan terjaga dan tercipta efisiensi,” jelas Wahyu.
Lebih lanjut dia menjelaskan, pada akhir Desember 2016 Perum Bulog mendapatkan tambahan dana PMN sebesar Rp 2 triliun yang diperuntukkan bagi pengembangan infrastruktur pascapanen padi/beras, jagung, dan kedelai (pajale). Dana sebesar Rp 2 triliun itu untuk empat kegiatan utama, di antaranya adalah meningkatkan penyerapan hasil panen gabah/beras petani melalui pembangunan Modern Rice Milling Plant (MRMP) dengan kapasitas total 1 juta ton setara Gabah Kering Panen (GKP) per tahun di sentra-sentra produksi padi.
Lalu, meningkatkan kemampuan serapan dan pengolahan beras lokal maupun impor dengan membangun 16 unit mesin Rice to Rice, meningkatkan nilai tambah hasil panen jagung melalui teknologi pengeringan modern dengan pembangunan 11 unit Drying Centre dan 64 unit penyimpanan (silo) jagung di sentra produksi jagung dan pembangunan 13 unit gudang kedelai di sentra produksi kedelai. “Karena itu, selain gudang kedelai ini kita juga sedang menyiapkan pembangunan infrastruktur pascapanen lainnya di lahan eksisting milik Bulog di beberapa wilayah kerja Divisi Regional dan Subdivisi Regional,” terang Wahyu.
Infrastruktur yang hendak dibangun itu di antaranya Rice to Rice sebanyak 7 unit di Bandar Lampung, Subang, Klaten, Kedu (Purworejo), Jember, Pare-Pare, dan Sidrap, lalu MRMP terintegrasi sebanyak 5 unit di Ngawi, Sragen, Jember, Pinrang, dan Sumbawa, kemudian Corn Drying Center dan silo sebanyak 3 unit dengan lokasi di Medan, Bulukumba, dan Gorontalo.
Selain itu, untuk kelengkapan infrastruktur pendukung lainnya Bulog juga menyiapkannya dari dana bukan (non) PMN, di antaranya adalah penyediaan mesin/alat kemas timbang beras dan gula, alat dan mesin pertanian (alsintan), rehabilitasi dan pembangunan gudang baru untuk komoditas beras, serta rehabilitasi dan revitalisasi unit pengolahan gabah/beras.
“Pembangunan infrastruktur pascapanen ini untuk mendukung pemerintah di sektor pangan agar ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen serta produsen terjaga sehingga mampu mewujudkan ketahanan pangan nasional,” katanya.

AddThis Social Bookmark Button