Title - Jeritan Petani Bawang Merah Solok Mulai Reda

Jeritan Petani Bawang Merah Solok Mulai Reda

Solok, betaEnews.com - Penyelesaian terhadap jeritan para petani bawang merah di Kabupaten Solok, Sumatera Barat mulai menunjukan tanda - tanda. Disepakati harga pembelian seperti yang tertuang dalam Permendag No 27 tahun 2017 yakni Rp 15.000 per kilogram di petani setelah tim yang dibentuk menghasilkan kualifikasi bawang merah yang akan dibeli pemerintah lewat Perum BULOG.

"Kita sudah ada kesepakatan bersama bahwa BULOG tetap berkomitmen menyerap bawang merah di Kabupaten Solok ini, dengan catatan kita dikawal oleh tim yang telah terbentuk tadi," kata Tri Wahyudi Saleh, Direktur Pengadaan Perum BULOG kepada betaEnews.com usai pertemuan antara petani dan pemerintah yang dihadiri oleh Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto, Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Parlindungan Purba, Anggota DPD RI Nofi Candra, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumbar Candra, Wakil Bupati Solok Yulfadri Nurdin, di Kecamatan Lembah Gumanti, Senin (12/6/2017).

Dimana dalam pertemuan tersebut disepakati pembentukan tim yang terdiri dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, BULOG, pemerintah daerah, serta petani sendiri. “Jadi, kita bisa mengawal harga yang Rp 15.000 per kilogram itu seperti apa kualitasnya. Ha itu dilakukan supaya kita dapat menjualnya guna memperkecil resiko kerugian," terangnya.

Menurut Tri, pihaknya dari Perum BULOG sebetulnya sudah mendapat penugasan dari pemerintah untuk menyerap bawang merah petani di seluruh Indonesia, yang salah satu tujuannya adalah untuk menstabilkan harga. "Kita (BULOG-red) kan sudah mendapat penugasan menyerap bawang merah sebanyak 2.000 ton untuk stabilisasi di tingkat produsen dan konsumen. Jadi kalau harga jatuh, kami juga beli yang kemudian kami distribusikan jika terjadi gejolak di konsumen. Tapi harus hati - hati, kita harus terkait dengan kualitas. Dimana nantinya saat pembelian dari petani kita akan buat berita acara pembelian bersama-sama, apabila terjadi potensial kerugian kita tanggung jawab bersama kepada pemerintah," ujarnya.

Sedangkan Wakil Bupati Solok dan juga Kepala Dinas Pertanian Solok, senada mengungkapkan bahwa persoalan yang terjadi di tengah - tengah petani Solok sebenarnya diawali karena harga bawang merah begitu murah sejak bulan Januari, terutama di bulan Februari, Maret, April hingga Mei. Disebut harganya Rp 10.000 – Rp 11.000 per kilogram, sementara serap bawang merah belum juga dilakukan. "Maka dari itulah, sesuai dengan janji Bapak Menteri Pertanian yang berkunjung ke Solok beberapa waktu yang lalu akan menjadikan Solok sebagai sentra bawang merah untuk wilayah Sumatera. Berbekal itulah petani kami bersemangat. Tapi apa hendak dikata sedangkan harga tidak bisa diangkat. Padahal telah dijanjikan jika harga bawang merah di bawah Rp 15.000 per kilogram maka akan dibeli oleh pemerintah, dan jika di atas harga tersebut, silahkan petani yang menjual,” tuturnya.

Untuk itulah, sambung Wakil Bupati Solok, diadakan pertemuan dengan para petani yang difasilitasi oleh DPD RI supaya ada titik terangnya sehingga para petani di Kabupaten Solok tidak lagi mengalami kerugian. “Maka hari ini diputuskan membentuk tim dari BULOG dan Kementan turun ke sini (Solok-red) untuk melakukan pertemuan dengan para petani. “Di akhir diskusi tadi, jalan keluarnya adalah BULOG sudah komit membeli sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, dan membentuk tim untuk menjaga dan memantau stabilisasi harga ini paling lambat tiga hari mendatang sudah terbentuk,” ujar Yulfadri Nurdin.

Terkait dengan pembentukan tim yang akan mengawal serap bawang merah di Kabupaten Solok, DPD sangat setuju. Sebab, hal itu menjadi harapan bagi petani untuk mewujudkan impiannya. “Selama ini kita selalu advokasi terhadap para petani dan kita koordinasi dengan pihak kementerian serta koordinasi dengan BULOG. Mudah - mudahan tim itu bisa mewujudkan semua impian dan harapan para petani dengan harga bawang merah Rp 15.000 per kilogram, dan pemerintah mengharapkan kualitas terbaik berasal dari Sumatera Barat,” kata Parlindungan Purba yang didampingi Nofi Candra.

Kementan akan Jadikan Solok Sebagai Sentra Bawang Merah

Sementara itu, Prihasto Setyanto mengungkapkan, sehubungan dengan potensi Sumatera Barat yang sangat bagus dalam pengembangan bawang merah, maka pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) akan menjadikan Solok sebagai sentra bawang merah di Sumatera. “Sesuai data, sampai 5.000 hektar di Solok ini tanaman bawang merah dengan produktifitas sampai 12 ton per hektar. Jadi daerah ini sangat potensial sekali," katanya.

Kebutuhan bawang merah di Sumatera, lanjutnya, sekitar 164.000 ton. Sementara produksi di Sumatera hanya 130.000 ton. “Artinya, untuk Sumatera sendiri masih kekurangan sekitar 30.000 ton secara keseluruhan. Potensi pengembangan bawang merah di luar Sumatera Barat itu masih cukup luas walau kita sudah swasembada bawang merah,” terangnya. RMT
(eB)

AddThis Social Bookmark Button