Data Produksi Beras Dinilai Terlalu Tinggi

Sejumlah kalangan meragukan data produksi beras nasional. Hal ini karena tingginya angka produksi dinilai tidak tecermin pada harga di pasar yang justru sebaliknya, bahkan bertentangan dengan tren harga di negara lain.

Produksi padi tahun 2016, sesuai angka perkiraan II Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian mencapai 79,1 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka itu naik 4,97 persen dibandingkan produksi tahun 2015 yang mencapai 75,3 juta ton GKG.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron, pada diskusi “Membenahi Data Pertanian dan Pangan Nasional” yang diselenggarakan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia dan Forum Wartawan Pertanian, Jakarta, Jumat pekan lalu, berpendapat, jika data produksi itu benar, semestinya ada surplus beras belasan juta ton saat ini. Selain berpotensi ekspor, surplus stok seharusnya menekan harga.

Menurut Herman, produksi 79,1 juta ton GKG setara dengan sekitar 47 juta ton beras dengan asumsi rendemen gabah mencapai 60 persen.

“Jika rata-rata konsumsi 124 kilogram per kapita per tahun, kebutuhan beras untuk 250 juta penduduk mencapai 31 juta ton, seharusnya ada surplus 16 juta ton,” ujarnya.

Namun, harga beras di pasar dinilai masih tinggi. Harga beras kualitas medium-premium di Jakarta, misalnya, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis dari 44 pasar tradisional di Jakarta, relatif stabil empat bulan terakhir. Harga beras jenis IR 64, misalnya, berkisar Rp 10.200 per kg hingga Rp 10.300 per kg sejak 1 November 2016.

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, menambahkan, tren harga beras Indonesia berkebalikan dengan harga beras dunia. Tren harga beras di Thailand dan Vietnam, misalnya, cenderung turun lima tahun terakhir mengacu laporan bulanan Bank Dunia. Namun, situasi harga beras Indonesia justru sebaliknya, cenderung naik dari kisaran Rp 10.500 per kg menjadi Rp 13.000 per kg.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai perlunya pembenahan data. “Membenahi data itu mudah, kuncinya satu, jujur,” ujarnya.

Kepala Bidang Data Nonkomoditas Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementerian Pertanian Dewa Cakrabawa menyatakan, pihaknya mengupayakan kerja sama dengan sejumlah pihak untuk memperbaiki kualitas data, termasuk menerapkan teknologi informasi untuk mengecek dan meningkatkan akurasi. Kementerian berkepentingan mendapat data yang akurat agar program kerja tepat sasaran.

“Keresahan kami sama. Kami ingin data yang akurat dan sebenar-benarnya. Tahun 1993, kami kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (Badan Kerja Sama Internasional Jepang) untuk memperbaiki data statistik, khususnya data pangan. Hasilnya, metode yang digunakan Indonesia dinilai baik jika melihat anggaran yang ada,” kata Dewa.

(MKN)

AddThis Social Bookmark Button