Wamentan: Perlu Manajemen Stok Yang Cerdas

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan perlu manajemen stok yang cerdas guna mengantisipasi terjadinya pergeseran musim tanam.

"Musim tanam mundur bukan berarti produksi menurun. Jangan salah, mundur itu pergeseran karena perubahan iklim, tanamnya mundur karena musim hujan datangnya terlambat," katanya kepada wartawan di Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Baturraden, Kabupaten Banyumas, Sabtu.

Menurut dia, mundurnya musim tanam tidak menimbulkan masalah pada produksi beras karena produksinya hanya bergeser.

Akan tetapi, kata dia, yang menjadi masalah adalah manajemen stok.

"Seharusnya kita sudah panen dan Bulog bisa membeli. Malah yang ada Bulog belum bisa membeli karena belum panen, stok yang ada malah habis," katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut berimplikasi pada manajemen stok sehingga perlu kecerdasan Bulog supaya stoknya bisa ditambah untuk satu bulan bergeser sehingga tidak kehabisan "amunisi" ketika belum panen.

Oleh karena itu, kata dia, Kementerian Pertanian (Kementan) bisa memahami satu opsi yang diajukan Bulog berupa impor beras sekitar 700 ribu ton meskipun produksi beras nasional telah naik sekitar 4,9 persen.

"Itu karena pergeseran musim, Bulog harus kuat, harus ada stok," katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan impor beras yang dilaksanakan Bulog bukan berarti tidak swasembada.

"Kita ini surplusnya 4 juta ton. Persoalannya, karena iklim bergeser, Bulog harus punya cadangan setiap saat," kata dia menegaskan.

Dalam hal ini, kata dia, Bulog yang semestinya sudah bisa membeli beras dari petani tetapi belum bisa karena musimnya bergeser.

Padahal, lanjutnya, kewajiban Bulog sebagai "public service obligations (PSO)" berupa beras untuk warga miskin (raskin) harus dilaksanakan.

Menurut Rusman, bergeser sering kali dipahami sebagai mundur, tetapi bisa juga bergeser maju.

"Yang namanya perubahan iklim, kalau maju bagaimana, kalau mundur bagaimana. Kalau mundur, tentu kita harus menyiapkan ekstra cadangan beras. Kalau maju, Bulog harus menyiapkan perlengkapan untuk menyerap hasil panen pada kesempatan pertama, kalau 'nggak' nanti dia ketinggalan momentum," katanya.

Disinggung mengenai produksi beras nasional hingga akhir 2012, dia memperkirakan bisa mencapai 38 juta ton setara beras, sedangkan kebutuhannya sekitar 33 juta ton sehingga ada surplus antara 4 juta hingga 5 juta ton.

AddThis Social Bookmark Button