Perum BULOG Siap Kelola Enam Komoditas Pangan

Perum BULOG siap mengelola enam komoditas pangan utama yakni beras, gula, kedelai, jagung, minyak goreng dan daging sebagai upaya stabilitas pangan nasional.

Dirut Perum BULOG Sutarto Alimoeso dalam acara rapat dengar pendapat (RDP) di komisi VI DPR-RI, Selasa mengatakan, dalam rencana jangka panjang perusahaan sampai 2014, keenam komoditi tersebut diharapkan sudah mampu dikelola.

"Saat ini BULOG masih fokus pada penugasan pemerintah untuk beras dan gula (kerjasama distribusi gula PTPN), sementara empat komoditas lainnya yaitu kedelai, jagung, minyak goreng dan daging sedang disiapkan," katanya.

Berdasarkan rencana bisnis perusahaan untuk komoditi kedelai, jagung, minyak goreng, dan daging sedang dipersiapkan, tambahnya, meski untuk tahun 2010 tidak seluruhnya bisa dilaksanakan.

Sutarto menjelaskan sebagai perusahaan negara, BULOG siap menerima penugasan pemerintah di luar komoditas pangan selain beras.

Dikatakannya, untuk komoditas daging sapi, selama ini harga daging sapi selalu mengalami kenaikan permintaan hingga 20 persen terutama saat hari keagamaan setiap tahunnya.

Hal itu yang membuat kenaikan harga daging maupun sapi potong, fenomena ini selalu terulang setiap tahun.

Salah satu cara strategi yang akan ditempuh BULOG, yakni menyiapkan populasi sapi potong dengan cara mengimpor sapi bakalan (bibit) usia 1,5 tahun dengan pola penggemukan selama 3-5 bulan.

"Langkah perlu ini dilakukan sebab pemenuhan sapi potong dalam negeri masih terbatas," katanya.

Sutarto mengatakan langkah tersebut dapat dilakukan dengan kerjasama kemitraan bersama perusahaan peternakan besar yang memiliki kegiatan impor sapi bakalan.

Berdasarkan perhitungan jika sapi bakalan usia 1,5 tahun dengan bobot 200 kg, maka akan ada nilai tambah berat badan sapi potong sebesar 0,8-1,2 kg per hari.

"Hasil penjualan sapi yang telah digemukan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging sapi masyarakat, sehingga dapat menstabilkan harga daging," jelasnya.

Sedangkan untuk komoditi kedelai, BULOG berencana mengimpor pada tahun ini dan akan bekerjasama dengan KOPTI (Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia) sehingga diharapkan mencapai tepat sasaran ke perajin tempe dan tahu.

Selama ini dari kebutuhan kedelai yang mencapai 2,1 juta ton per tahun di dalam negeri sebanyak dipenuhi 60 persen melalui impor.

Menurut dia, kerjasama tersebut akan diikat dengan suatu nota kesepahaman antara BULOG, Kopti dan perbankan yang klausulnya bisa memuat pelarangan atau pembatasan distribusi kedelai ke sentra-sentra penghasil kedelai dalam negeri, sehingga tak mempengaruhi harga kedelai. (kfs)

Sumber : Antara